Menanti kejujuran

Sebuah usap tangan yang menjadikan tangis begitu menderu dan sepotong pisang goreng menuju keabadian tertawa.

Betapa indah; buku-buku dalam etalase dan koleksi tanpa kertas, senyum ayah, topi toga, dompet dan barisan arabika.

Betapa indah menyesap dan membuat tabu mata-mata berisik yang menusuk pelan rusuk

Ruangku sebatas itu Tuhan, dan samudera-Mu begitu luas, aku bagai katak dalam tempurung didalam tempurung.

Lalu kuingat bagaimana ibu tak merestui, benar adanya restu ibu tak pernah semurah air mata.

Duh, ibu.

Besok aku menuju ruanganmu sekedar memeluk dan meminta maaf.

Menyesap dan tersedu, naungan.

Advertisements

Aku jongkok saja dibalik meja bar, membaca buku dan menutup telinga soal hingar diluar. Telingaku ditusuk-tusuk, empeduku diperas tawa-tawa. Pohon-pohon paling tau bagaimana menanti hidup sembari menyesap.

Dihadapkan realitas keuangan, poros indah tentang perputaran yang sulit dijangkau. Nalar dan logika merangsang denyut sudah, tentang nafas berat bak lahiran dan detak akhir menuju kematian.

Tapi kasta rasa demikian pintar bergumam, menuntut mata yang enggan menoleh barang menghitung jeruji yang hendak lewat.

Maka hirarki atas nama luka hadir tanpa aba-aba yang pasti, kalau engkau keluhkan sakit, Aku juga. Bisik kekasih.